Jumat, 19 Juni 2009

yakin

Jumat, 19 Juni 2009 0

yakin
ada tanya yang tak perlu terjawab




kLik DiSiNi UnTuK BaCa SeLeNgKaPnYa...

Siswaku sayang, siswaku malang

Siswaku sayang, siswaku malang
UU Sisidiknas dan Wajah pendidikan dipedalaman

Asap membumbung tinggi diudara, cahaya terang menyerupai cendawan raksasa menari-nari dengan irama yang ritmis. Pagi itu 15 Agustus Nagasaki yang malang dan Hiroshima yang lelap tiba-tiba saja mengerang dalam rintih yang tertahan. Puluhan ribu orang menjerit kesakitan dalam petaka bom Atom. Jepang pun takluk pada sekutu pimpinan Amerika.

Hari itu sejarah Jepang berubah. Negara yang meproklamirkan didrinya sebagai cahaya Asia itu seakan tak berdaya dalam putaran nasib buruknya. Namun sebuah jeritan kecil tapi penuh makna terngiang dari tembok istana kaisar. Sebuah tanya yang menjelma sabda. Masih adakah guru yang hidup? Kita tak tahu apa yang ada dibenak sang kaisar pada waktu itu, namun kita tahu sejak itu Jepang berbenah, terus belajar dan hasilnya dapat kita lihat sekarang.


Peristiwa tsb terjadi sekitar 64 tahun silam. Peristiwa besar yang ikut mengubah sejarah Indonesia. Seiring dengan itu Kini tepat 64 tahun usia kemerdekaan Indonesia sistem dan pengelolaan pendidikan di Indonesia masih mencari bentuknya.
Memang melalui UU sisdikans Indonesia telah memperhatikan nasib pendidikan. Namun dalam banyak hal kesenjangan pendidikan dikota dan pedalaman terus merekah seiring drengan jargon-jargon pendidikan yang digaungkan. Tengoklah sebuah desa kecil diutara Kalimantan timur. Orang-orang menamainya Tepian, Seperti sebuah paradoks ia bagaikan tepian nasib buruk bagi sejumlah murid yang berupaya menjadi manusia yang sesungguhnya. Betapa tidak disekolah tersebut hanya terdapat dua orang guru dengan tanggung jawab besar mengajarkan lebih dari sepuluh mata pelajaran tanpa fasilitas apa-apa selain meja kursi dan papan tulis dan beberapa buku pelajaran usang, hal itu diperparah lagi dengan letaknya yang sangat terisolir dikelilingi oleh belantara, dan sungai ber-buaya tanpa akses kedaerha lain. Ironis memang sebab hal ini tentunya haruslah menjadi sebuah masa lalu kelam bagi wajah pendidikan kita. Namun demikianlah faktanya.
Tentunya ada yang salah dalam kasus tersebut, namun mencari benar-salah pastinya bukanlah hal yang cukup bijaksana. Diknas setempat bedalih bahwa mereka telah melaksanakan tanggung jawabnya dan menuding provinsi sebagai penyebabnya, dst. Namun sadar atau tidak sebuah pelanggaran HaM telah terjadi. Anak-anak yang malang itu tidak meperoleh apa yang seharusnya menjadi hak mereka yaitu pendidikan yang baik sebagai bekal masa depan mereka. Belum lagi kondisi tersebut berpotensi bagi terjadinya malapraktik dalam dunia pendidikan. Sebab kedua guru tersebut harus mengajarkan banyak mata pelajaran yang bukan merupakan kompetensinya.

Lalu petaka UAN pun dating. Ujian yang katanya berstandar nasional tsb akhirnya menjelma momok. Hal ini disebabkan oleh ketidak siapan siswa dalam menghadapinya. Sebab konon katanya sang guru harus lari kesana sini dari satu kelas kekelas lain untuk menagajar, sebab ada tiga ruang kelas sementara gurunya hanya dua. Kasus ini mungkin hanyalah sebuah femnomena gunung es dimana yang nampak hanyalah puncaknya sementara sebagian besar lainnya justeru tak nampak.

Seharusnya hal ini tak perlu terjadi jika pihak-pihak yang berkompeten dalam hal ini mau peduli bukan hanya saling tuding. Bukankah apa yang telah disusun dalam UU guru dan dosen tahun 2005 tentang sisdiknas tsb telah cukup bagi kita semua untuk menjadi pedoman terhadap pelaksanaan pendidikan diseluruh wilayah RI entah itu diperkotaan maupun dipedalaman. Pertanyaannya kemudian sejauh mana hal itu menjadi beban moril bagi kita untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya. Apalagi dengan dana pendidikan yang sedemikian besar yakni 20 %. Haruskah kita ikut larut dalam petaka atom yang justru diciptakan bukan oleh sekutu namun elemen bangsa kita sendiri. Dan jika sang kaisar Jepang bertanya masihkah ada guru yang hidup maka tak layakkah kita bertanya bilakah hak mereka terpenuhi dengan baik sesuai dengan amanat konstitusi kita.

kLik DiSiNi UnTuK BaCa SeLeNgKaPnYa...
 
" WAROENG DEMOCRAZY " ◄Design by Pocket, BlogBulk Blogger Templates ►