APA KABAR DEMOKRASI ?
Fardi Dg. Mattorang
Tak terasa hari mulai terang, jarum panjang di jam tanganku sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, entah kenapa mataku tak bisa merasa ngantuk juga, tapi yang jelas bukan karena gelisah, atau patah hati alias putus cinta, apa lagi stress karena tidak terpilih jadi anggota legislative meski saya pernah duduk di gedung rakyat itu walau hanya dalam mimpi teman saya ,si ucu.
Seperti biasanya saya dengan beberapa teman sering menghabiskan waktu di malam hari hanya untuk sekedar ngobrol seputar berita berita terbaru di kota Tarakan, mulai masalah kriminalitas, krisis listrik yang makin meningkat sampai dengan fenomena trendnya ABG atau anak baru gede menggunakan celana pendek yang mungkin saat ini memang sedang terjadi dekadensi moral di kalangan pelajar kita, beda halnya kali ini, kami bercerita banyak tentang hasil pemilihan legislative yang masih hangat-hangatnya di bicarakan tentang caleg yang berhak menerima aspirasi rakyat ,tentunya jika terpilih jadi anggota DPRD, beberapa teman merasa bangga karena jagoannya berhasil memperoleh suara yang cukup signifikan sehingga di pastikan mendapat jatah kursi di gedung terhormat itu, namun beberapa teman yang lain merasa dongkol dan sedih karena wakilnya tidak berhasil menjadi wakil rakyat, bahkan beberapa teman lainnya lagi merasa kasihan dengan si ANU karena sudah menghabiskan banyak materi namun tidak terpilih juga. Saya maklum karena politik tentu penuh dengan kepentingan.
Yah..itulah pesta demokrasi meski tak layak disebut sebagai pesta, karena pesta identik dengan cinta, keindahan, kebahagiaan, kemenangan, namun pesta yang satu ini terkadang membuat sebagian orang tersenyum sementara orang yang lainnya menangis, sebuah pesta tak pernah meninggalkan kekalahan apa lagi penderitaan, hingga saya lebih cocok menyebutnya pertandingan memeperebutkan suara, dalam artian siapa yang paling banyak mencetak gol maka ialah yang akan memperoleh bonus yang berlimpah, bila pertandingan sepak bola memperebutkan tropi kepala desa, walikota atau entah apapun namanya namun pertandingan yang satu ini memperebutkan piala yang disebut kekuasaan. Clubnya adalah partai politik, pemainnya para caleg, KPU adalah panitia pelaksana, dan PANWASLU pemegang sempritan atau wasit, sementara bolanya adalah rakyat termasuk anda dan saya tentunya bukan…?
Wajah pemilu kali ini nampaknya tidak semakin baik dan bisa dikatakan kualitasnya semaki buruk bahkan tak ada bedanya dengan liga-liga sepak bola dalam negeri, anda tentu sering melihat pertandingan sepak bola domestik yang berakhir dengan kericuhan, entah karena pemainnya saling baku hantam sebab tidak dapat mengendalikan emosi, wasitnya memihak, bahkan pelaksananya tidak professional alias tidak becus dalam mempersiapkan pelaksanaan pertandingan, sehingga bermimpi rasaya bila tim sepakbola negeri kita bisa berlaga di piala dunia, mungkin saja bisa, tapi mungkin saat-saat itu jasad kita sudah hancur tertelan tanah.
Bila banyak orang berpendapat bahwa pelaksanaan pemilu kali ini dianggap lebih buruk di banding pemilu sebelumnya, hal itu wajar wajar saja, hal ini dapat di tinjau dari berbagai kasus yang timbul, mulai dari tertukarnya surat suara, banyaknya jumlah suara yang tidak sah bahkan adanya campur tangan pelaksana kegiatan dalam memasukkan gol dalam gawang. Namun apa mau di kata, hal itu tdak dapat kita alasan untuk menolak hasil perolehan suara, karena apaun alsannya kepeningan Negara adalah kepentingan diatas segalanya, meski untuk melaksanakan pertandingan ini menghabisskan anggaran trilliunan rupiah, bila nggaran itu di peruntukkan oleh kaun fakir pastilah tidak akan lagi ada lagi rakyat yang kesusahan memperoleh hak sandang dan pangan, apa lagi kalau untuk,he……he…..mebeli “kuaci” saya tak sanggup menghitung tentunya dan pasti juga anda tak akan pernah sanggup. tapi apalah arti semua itu, karena patut di pahami bahwa demokrasi itu memang mahal, demi menempatkan kedaulatan Negara diatas tangan rakyat. Tidak salah bila MUI menghimbau agar para Caleg untuk tidak terlalu memikirkan bilah belum terpilih karena dapat menimbulkan stress, sehingga perlu untuk bersikap dan berfikir jernih, dan bagi yang terpilih patut kita memberikan aprsiasi dan ucapan selamat, mudah-mudahan menjadi wakil rakyat yang amanah, mementingkan kepentingan rakyat diatas kepentingan Golongan. selamat …….dan selamat bagi yang terpilih.
Kamis, 16 April 2009
Apa Kabar Demokrasi ?
Kamis, 16 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 KOMENTAR:
Posting Komentar