Sabtu, 04 April 2009

THE DEATH AFTER ELECTION

Sabtu, 04 April 2009

THE DEATH AFTER ELECTION


Tiga buah kursi yang masing-masing memiliki nomor urut, satu hingga nomor tiga dijejer pada sebuah trotoar jalan kemudian dua sosok seniman memukul ke tiga kursi dengan sapu lidi yang terbakar suaranya sungguh mengerikan dan patahan-patahan ujung sapu lidi itupun beterbangan bagai bunga api seperti pesta penyambutan tahun baru yang berakhir dengan pesta maksiat di hotel-hotel berbintang, akhirnya ke tiga kursi sebagai symbol kekuasaan tersebut dilalap api menjadi arang yang membara dan rubuh, kemudian para actor tersebut membakar sejumlah ikan bandeng sebagai symbol bahwa apapun hasil pesta demokrasi maka para birokrat tetap berpesta pora diatas penderitaan rakyat, itulah sekilas pertunjukan seni yang berjudul

The death after election (kematian setelah Pemilu) karya firman djamil seorang environmental artist yang sudah melanglang buana di bebarapa Negara di Asia maupun di Eropa, sebuah tajuk pegelaran seni yang mengkritisi ketidak siapan para colon kepala daerah ataupun sebagian masyarakat kita untuk berdemokrasi, tanda tangan telah dibubuhkan pada sebuah kertas dengan kesiapan menerima hasil pesta demokrasi toh akhirnya berakhir dengan gugatan di meja hijau.
Sudah banyak contoh Pilkada yang melahirkan kematian, kematian moral, kematian rasa persatuan kematian rasa malu dan masih banyak kematian- kematian yang lain, pemilihan kepala daerah di Maluku Utara, Sulawesi Selatan dan beberapa daerah lain menjadi gambaran konkrit tentang wajah demokrasi di negeri ini.
Atas nama demokrasi, pemilihan presiden hingga kepala desa di lakukan secara langsung hal ini bermakna bahwa keputusan tertinggi di negeri ini adalah dari rakyat untuk rakyat sesuai dengan amanat UUD 1945.
Pesta demokrasi tidak hanya sebatas di bilik suara, namun pesta demokrasi mendidik dan mengajarkan bahwa setiap warga Negara memiliki hak yang sama degan hanya satu suara untuk menentukan umara sama sekali bukan penguasa dengan saling menghormati, menghargai perbedaan, pilihan, pendapat dan tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, terpenting tidak menjadikan pesta demokrasi menjadi arena perebutan kekuasaan karena kekuasaan hanyalah balon-balon -sabun yang terbang di udara seperti pada bait puisi Widji Tukul.
Pilkada Kalimantan timur telah di gelar, masa mengumbar janji telah usai, berbagai cara pun telah dilakukan oleh masing - masing tim sukses, aturan main pilkada telah di injak-injak, berbagai gugatan pun di layangkan sebagai protes ke tidak puasan beberapa kontesntan tentang hasil keputusan penyelenggara pemilu. Riak-riak perpecahan mulai bermunculan antara yang pro dan kontra hasil pemilu. kini kita mesti harus menunggu apakah pesta demokrasi Kalimantan Timur akan menjadi arena peperangan yang akan memakan korban kematian demokrasi yang menghabiskan Anggaran yang tak sedikit itu.wallauhu a’lam bissawab.


Oleh: Ahmad Fardi


0 KOMENTAR:

Posting Komentar

 
" WAROENG DEMOCRAZY " ◄Design by Pocket, BlogBulk Blogger Templates ►