HATI-HATI RETORIKA JURU KAMPANYE
Ahmad Fardi Dg. Mattorang
Sekertaris SAPMA PP
Seorang ibu bercerita tentang anaknya yang baru saja di sunat di acara sunatan massal dengan tidak mengeluarkan uang sepersenpun sehingga ia sangat merasa sangat senang karena tidak perlu lagi mengeluarkan biaya rumah sakit ditengah suasana ekonomi yang carut marut seperti saat ini, saya sangat maklum karena untuk memotong daging yang sedikit itu dirumah sakit tentu akan membutuhkan biaya yang cukup besar bagi ibu itu, kemarin dulu juga ada acara bagi-bagi sembilan bahan bokok kepada warga yang tidak mampu, keningku sedikit berkerut apa mungkin dunia sudah
mau kiamat karena tiba-tiba si fulan yang pemakai narkoba itu berbuat baik melakukan sunatan missal dan si aco yang memelihara anjing herder membagikan sembilan bahan pokok kepada fakir miskin,yang mengherankan lagi seorang tetanggaku yang tidak pernah turun kemesjid tiba-tiba rajin ke mesjid dengan memakai sorban dan tasbih ditangan seiring dengan mulutya yang komat kamit.
Menjelang pesta demorasi entah itu pemilihan pesiden, legislative hingga pemilihan kepala desa dalam klasifikasi wyne brockriede, di hadapan massa selalu ada tiga jenis retorika dua diantaranya termasuk monolog :
pertama, pemerkosa retoris, ia melihat massa sebagai objek, korban atau manusia rendah yang harus di giring ke sasaran yang di kehendaki, sikapnya terhadap khalayak adaah superioritas, dominasi, paksaan, kecaman, termasuk jenis ini para jurkam yang menganggap para pemilih sebagai kerbau yang harus dicocok hidungnya di giring ketempat pemungutan suara dengan ancaman, dipaksa mencoblos kontestan tertentu.
Kedua, perayu retoris, ia melihat massa sebagai sasaran rayuan maut, sikapnya terhadap rakyat tidak tulus dan kemana-mana, mempesona merayu, dan tak acuh terhadap identitas, integritas dan dan rasionalitas khalayak. Jurkam macam ini menggunakan kerancuan logis memutar balikkan fakta memanfaatkan motif-moti manusia rendah, menjebak dengan analogi, ia menyeret pemilih dengan tipuan, pameran kebaikan dengan iming-iming janji kalau yang pertama mengancam pemilih dengan tongkat maka yang kedua dengan wortel dan sama-sama kampanye monologis.
Kebanyakan jurkam dalam berbagai PILKADA masih menggunakan retorika diatas, sehingga saatnya bagi masyarakat untuk mendapatkan Pendidikan politik agar tidak bisa terbeli dengan materil ataupun tergoda dengan janji-janji sehingga dapat memilih calon pemimpin yang berpihak pada kepentingan rakyat.
Sabtu, 25 April 2009
Sabtu, 25 April 2009
Categories :
Essay ku
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 KOMENTAR:
Posting Komentar